Tim PJBOLokal
· Rokan Hulu
Hikayat Kepenuhan di Rokan Hulu: Rakit yang Kandas dan Asal Nama Suku-Suku
Hikayat ini menceritakan asal-usul Luhak Kepenuhan di Rokan Hulu beserta suku-suku di dalamnya.
Konon, Kerajaan Johor dilanda perang saudara yang tak berkesudahan. Raja Purba membawa sebelas anaknya mengungsi lewat jalur sungai dengan perahu layar hingga masuk wilayah Rokan di Perea. Mereka terus ke hulu sampai mendekati Kualo Batang Sosah, kini daerah Mudik Tanjung Alam, Kepenuhan Barat.
Rombongan itu menghadap Raja Tambusai, Sultan Abdullah, untuk memohon tanah tempat tinggal dan aturan adat untuk mendirikan negeri. Raja Tambusai mengabulkannya. Ia awalnya hendak membagi rombongan menjadi tujuh suku, tetapi atas permintaan Raja Purba yang sangat menyayangi kesebelas anaknya, mereka dibagi menjadi sebelas suku. Kedua pihak lalu mengikrarkan "padan janji ikat karangan sumpah setia" agar anak cucu mereka tidak berselisih di kemudian hari.
Namun empat anak Raja Purba tidak setuju Kualo Batang Sosah dijadikan pusat negeri. Perselisihan dibawa kembali ke Raja Tambusai. Atas kebijaksanaannya, rombongan dibagi dua: tujuh suku mengikuti Raja Purba, sedangkan empat suku diantar dengan damai ke hilir. Tempat empat suku itu kemudian disebut Pulau Antar.
Di Kualo Batang Sosah, rakyat membangun istana, balai, dan rumah. Anehnya, Raja Purba tidak mau tinggal di istana. Ia justru meminta dibuatkan rakit besar yang megah, bertingkat, berukir, dan dilengkapi gong serta gendang, sebagai istana terapung.
Lama-kelamaan perangai Raja Purba berubah. Ia berbuat sewenang-wenang, termasuk terhadap kaum perempuan di negerinya, dan memerintahkan segala harta rombongan dinaikkan ke rakit. Akhirnya rakit itu kandas karena terlalu sarat muatan.
Dari peristiwa rakit kandas inilah, menurut hikayat, lahir nama-nama suku sesuai peran masing-masing. Suku Melayu memegang tiga posisi: di tengah sebagai kapten (Tongah), di atas mengatur layar (Ateh), dan di bawah mengurus mekanik (Pasak). Yang mondar-mandir mengelilingi rakit menjadi suku Moniliang. Yang diam menunggu disebut Pungkuik. Yang bekerja keras menahan air sampai badan lemas disebut Kandang Kopuh. Yang gemar pais dan sambal ikan disebut Mais. Para penyampai perintah raja yang ditakuti, "rangkuti", menjadi suku Kuti. Yang turun menahan dan mengangkat rakit, "mengampu", menjadi suku Ampu. Ada pula yang berkeluh, "Lah, ponuh agaknya rakit ini." Dari kata "ponuh" (penuh) itulah konon lahir nama Kepenuhan.
Bertahun-tahun tak ada yang berani menegur raja. Akhirnya suku nan tujuh dan suku nan empat bersatu menghadap Raja Tambusai, tetapi menurut adat dan pusaka di Tambusai tidak ada aturan untuk menghukum seorang raja. Mereka lalu menghadap Raja Kunto di Rokan Kiri. Raja Kunto menyatakan perbuatan Raja Purba tidak patut dan menyanggupi menjatuhkan hukuman. Disepakati bahwa isi rakit menjadi milik Raja Kunto, dan para perempuan dikembalikan ke rumah masing-masing. Hukuman itu pun dijalankan.
Setelah itu, sebelas pihak kembali ke Tambusai untuk meminta maaf dan memohon raja pengganti. Yang Dipertuan Tua di Tambusai, bersama para pemuka suku, memutuskan menitahkan saudara perempuannya, To' Permaisuri, untuk menjadi raja di Kepenuhan.
📚 Sumber: Cerita "Hikayat Kepenuhan" yang ditulis kembali oleh Zainal Abidin, dalam buku antologi "21 Cerita Rakyat Bumi Lancang Kuning" (editor Agus Sri Danardana), diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Riau, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, bekerja sama dengan Gama Media, 2010. ISBN 978-979-1104-45-6.
Catatan: kisah ini diceritakan kembali secara ringkas dari sumber di atas. Sebagai cerita rakyat yang diwariskan dari mulut ke mulut, kisah ini bisa punya versi berbeda di tiap kampung.
Versi apa yang pernah kalian dengar dari orang tua atau datuk-nenek? Ceritakan di komentar!
Konon, Kerajaan Johor dilanda perang saudara yang tak berkesudahan. Raja Purba membawa sebelas anaknya mengungsi lewat jalur sungai dengan perahu layar hingga masuk wilayah Rokan di Perea. Mereka terus ke hulu sampai mendekati Kualo Batang Sosah, kini daerah Mudik Tanjung Alam, Kepenuhan Barat.
Rombongan itu menghadap Raja Tambusai, Sultan Abdullah, untuk memohon tanah tempat tinggal dan aturan adat untuk mendirikan negeri. Raja Tambusai mengabulkannya. Ia awalnya hendak membagi rombongan menjadi tujuh suku, tetapi atas permintaan Raja Purba yang sangat menyayangi kesebelas anaknya, mereka dibagi menjadi sebelas suku. Kedua pihak lalu mengikrarkan "padan janji ikat karangan sumpah setia" agar anak cucu mereka tidak berselisih di kemudian hari.
Namun empat anak Raja Purba tidak setuju Kualo Batang Sosah dijadikan pusat negeri. Perselisihan dibawa kembali ke Raja Tambusai. Atas kebijaksanaannya, rombongan dibagi dua: tujuh suku mengikuti Raja Purba, sedangkan empat suku diantar dengan damai ke hilir. Tempat empat suku itu kemudian disebut Pulau Antar.
Di Kualo Batang Sosah, rakyat membangun istana, balai, dan rumah. Anehnya, Raja Purba tidak mau tinggal di istana. Ia justru meminta dibuatkan rakit besar yang megah, bertingkat, berukir, dan dilengkapi gong serta gendang, sebagai istana terapung.
Lama-kelamaan perangai Raja Purba berubah. Ia berbuat sewenang-wenang, termasuk terhadap kaum perempuan di negerinya, dan memerintahkan segala harta rombongan dinaikkan ke rakit. Akhirnya rakit itu kandas karena terlalu sarat muatan.
Dari peristiwa rakit kandas inilah, menurut hikayat, lahir nama-nama suku sesuai peran masing-masing. Suku Melayu memegang tiga posisi: di tengah sebagai kapten (Tongah), di atas mengatur layar (Ateh), dan di bawah mengurus mekanik (Pasak). Yang mondar-mandir mengelilingi rakit menjadi suku Moniliang. Yang diam menunggu disebut Pungkuik. Yang bekerja keras menahan air sampai badan lemas disebut Kandang Kopuh. Yang gemar pais dan sambal ikan disebut Mais. Para penyampai perintah raja yang ditakuti, "rangkuti", menjadi suku Kuti. Yang turun menahan dan mengangkat rakit, "mengampu", menjadi suku Ampu. Ada pula yang berkeluh, "Lah, ponuh agaknya rakit ini." Dari kata "ponuh" (penuh) itulah konon lahir nama Kepenuhan.
Bertahun-tahun tak ada yang berani menegur raja. Akhirnya suku nan tujuh dan suku nan empat bersatu menghadap Raja Tambusai, tetapi menurut adat dan pusaka di Tambusai tidak ada aturan untuk menghukum seorang raja. Mereka lalu menghadap Raja Kunto di Rokan Kiri. Raja Kunto menyatakan perbuatan Raja Purba tidak patut dan menyanggupi menjatuhkan hukuman. Disepakati bahwa isi rakit menjadi milik Raja Kunto, dan para perempuan dikembalikan ke rumah masing-masing. Hukuman itu pun dijalankan.
Setelah itu, sebelas pihak kembali ke Tambusai untuk meminta maaf dan memohon raja pengganti. Yang Dipertuan Tua di Tambusai, bersama para pemuka suku, memutuskan menitahkan saudara perempuannya, To' Permaisuri, untuk menjadi raja di Kepenuhan.
📚 Sumber: Cerita "Hikayat Kepenuhan" yang ditulis kembali oleh Zainal Abidin, dalam buku antologi "21 Cerita Rakyat Bumi Lancang Kuning" (editor Agus Sri Danardana), diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Riau, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, bekerja sama dengan Gama Media, 2010. ISBN 978-979-1104-45-6.
Catatan: kisah ini diceritakan kembali secara ringkas dari sumber di atas. Sebagai cerita rakyat yang diwariskan dari mulut ke mulut, kisah ini bisa punya versi berbeda di tiap kampung.
Versi apa yang pernah kalian dengar dari orang tua atau datuk-nenek? Ceritakan di komentar!