Langsung ke konten
PJBO Lokal · Riau

Tim PJBOLokal

· Bengkalis

Ngopi Sore

Kisah Asal Mula Desa Gajah Sakti di Duri: Gajah yang Disangka Tersesat

Duri, di Kabupaten Bengkalis, dikenal sebagai kota di antara ladang minyak. Pompa-pompa minyak bergerak naik turun tanpa henti, dan pasarnya ramai oleh perantau dari berbagai daerah. Namun dahulu, kawasan ini adalah hutan lebat tempat gajah-gajah hidup.

Kisah ini dituturkan lewat seorang anak bernama Adnan, murid kelas 3 SD Center di Duri. Teman sebangkunya, Atan, suka melukis. Suatu hari Atan menggambar seekor gajah besar yang sedang mengamuk dan menginjak seorang lelaki berkumis. Atan bilang itu adalah kejadian yang ia saksikan waktu kecil.

Di Pasar Duri, yang dulu disebut Simpang Padang, ada seorang pedagang daging bernama Pak Sakti. Ia terkenal sebagai pemotong kerbau paling handal. Dengan tali dan golok tajamnya, ia bisa merobohkan dan menyembelih kerbau dengan cekatan. Keahlian itu membuatnya sangat percaya diri.

Suatu hari, seekor gajah besar muncul di dekat kantor desa. Gajah itu datang pada malam hari, dan saat pagi tiba ia hanya diam di tempat, seperti kebingungan. Warga menyebutnya "gajah tasosek" atau gajah tersesat. Kabar itu cepat menyebar. Orang-orang dari kampung dan pasar berdatangan untuk melihat.

Menariknya, gajah itu sama sekali tidak mengganggu. Bahkan ketika ada seorang anak kecil terlepas dari gendongan ibunya dan jatuh di dekat kakinya, gajah itu justru mengangkat anak itu dengan lembut dan mengembalikannya ke arah sang ibu.

Lalu datanglah Pak Sakti dari arah pasar dengan tali di tangan. Dengan suara lantang ia meminta orang-orang menyingkir karena ia akan mengikat gajah itu. Semua orang mundur dan menunggu. Gajah itu tetap tenang, seolah tahu ada bahaya yang mendekat.

Begitu Pak Sakti melemparkan talinya, gajah itu menghindar dan melilit Pak Sakti dengan belalainya, lalu melepaskannya ke tanah. Pak Sakti masih bisa berdiri dan mencoba melawan lagi. Kali ini gajah itu tidak memberi ampun. Tidak ada yang sanggup menolong, dan Pak Sakti meninggal di tempat itu. Sejak peristiwa tersebut, daerah itu dinamakan Desa Gajah Sakti.

Bertahun-tahun kemudian, Adnan dan Atan bertanya kepada Kakek Ibrahim, sesepuh kampung yang mengajar mengaji. Menurut Kakek Ibrahim, gajah sebenarnya tidak tersesat. Penciumannya sangat tajam. Gajah akan kembali ke tempat asalnya, sama seperti manusia yang pulang kampung setelah merantau. Ada pula yang percaya gajah datang untuk "menziarahi" tempat leluhurnya. Karena itu ia tidak pergi meski diusir.

Kakek Ibrahim berpesan agar gajah dianggap sebagai sahabat. Jangan diganggu, jangan dihina, apalagi dicelakai. Lebih bijak lagi jika hutan dijaga agar gajah tidak makin terdesak, karena hutan yang rusak membuat gajah masuk kebun dan mengamuk.

Kisah ini mengajak kita menjaga hutan, sungai, dan satwa yang hidup di dalamnya.

📚 Sumber: Buku "Asal Mula Desa Gajah Sakti: Cerita Rakyat Bengkalis, Riau" karya Andi Mulya, diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Riau (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek), 2021.

Catatan: kisah ini diceritakan kembali secara ringkas dari sumber di atas. Sebagai cerita rakyat yang diwariskan dari mulut ke mulut, kisah ini bisa punya versi berbeda di tiap kampung.

Versi apa yang pernah kalian dengar dari orang tua atau datuk-nenek? Ceritakan di komentar!
11 dilihat · 0 komentar Bagikan WA

0 komentar

Masuk untuk ikut berkomentar

Anda di mana?

Kami tampilkan iklan terdekat dari lokasi Anda.

Memuat…