Langsung ke konten
PJBO Lokal · Riau

Tim PJBOLokal

· Indragiri Hilir

Ngopi Sore

Kisah Asal Mula Desa Pusaran di Indragiri Hilir: Perahu yang Ditelan Pusaran Air

Alkisah, seorang pengembara dari Pulau Jawa bernama Yusran tiba di pinggir sebuah hutan lebat di pesisir Sumatera. Di sebelah timur hutan mengalir sungai berair kecokelatan. Di sana ia bertemu sepasang pengembara dari Bumi Melayu, Sujono dan istrinya, Aminah. Ketiganya sama-sama merasa cocok untuk menetap di tempat itu. Tanahnya gambut, subur, dan baik untuk bercocok tanam.

Mereka bergotong royong membangun pondok panggung. Tiangnya dari kayu ulin, dindingnya dari kayu punak, dan atapnya dari anyaman daun nipah buatan Aminah. Aminah juga pandai menganyam tikar pandan, membuat bakul dari bemban, dan tangguk dari rotan. Setelah itu dibangun pula pondok untuk Yusran, tidak jauh agar mereka bisa saling memanggil bila ada bahaya.

Pekerjaan membuka lahan penuh tantangan. Suatu hari kaki Sujono terkena kapak dan darahnya terus mengalir. Yusran sigap mengikat lukanya dengan akar, mencari tanaman obat, mengunyahnya, lalu membalurkannya ke luka. Ia menggendong Sujono pulang ke pondok. Setelah beberapa minggu, luka itu sembuh dan mereka kembali bekerja.

Mereka berencana menanam kelapa karena cocok di tanah gambut dan masa produktifnya panjang. Bibitnya harus dicari di kota, dan satu-satunya jalan ke kota adalah sungai. Maka mereka membuat perahu.

Saat bekerja, datanglah empat lelaki dari desa tetangga: Said, Mul, Mahmud, dan Abdul. Mereka juga pengembara dari Bumi Melayu yang kehabisan bekal dan membutuhkan bibit kelapa. Yusran dan Sujono, yang pernah belajar membuat perahu di daerah kepulauan, mengajak mereka bekerja sama.

Hari keberangkatan tiba. Cuaca cerah, tetapi ketika perahu mendekati hulu sungai, langit mendadak gelap, hujan dan petir datang, dan muncul pusaran air besar. Perahu tak bisa dikendalikan. Sujono memerintahkan semua melompat. Perahu itu tersedot ke dalam pusaran, lalu anehnya pusaran langsung menutup dan menghilang.

Mereka berenang ke arah yang berbeda-beda. Yusran menyelamatkan Mul yang kurang pandai berenang. Setelah lama mencari, Sujono dan Abdul ditemukan, lalu Said dan Mahmud didapati tersangkut di rimbunan nipah. Mereka segera ditelungkupkan sampai air keluar dari mulut, dan keduanya siuman.

Kembali ke pondok, mereka berbagi tugas. Ada yang membuat perahu baru, ada yang berburu menjangan, ada yang memancing ikan duri dan sembilang. Yusran mengusulkan membuat dua perahu sekaligus, karena pusaran itu reda setelah menelan perahu.

Pada perjalanan kedua, pusaran kembali muncul. Kali ini Sujono dan Mahmud berseru memohon izin kepada penunggu hulu sungai dan meminta maaf karena sebelumnya tidak permisi. Mereka melompat ke perahu kedua. Perahu yang kosong tertelan pusaran, lalu badai reda seketika. Sejak itu pusaran tidak pernah muncul lagi.

Hutan itu pun menjadi kebun kelapa yang subur. Banyak orang datang menetap, sungai diperpanjang secara gotong royong, dan hasil kebun diangkut dengan sampan dan pompong. Yusran diangkat menjadi kepala desa. Ada yang bilang nama Pusaran berasal dari plesetan nama Yusran, ada pula yang yakin berasal dari pusaran air di hulu sungai itu.

📚 Sumber: Buku "Asal Mula Desa Pusaran: Cerita Rakyat Indragiri Hilir, Riau" karya Dahlia, diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Riau (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek), 2021.

Catatan: kisah ini diceritakan kembali secara ringkas dari sumber di atas. Sebagai cerita rakyat yang diwariskan dari mulut ke mulut, kisah ini bisa punya versi berbeda di tiap kampung.

Versi apa yang pernah kalian dengar dari orang tua atau datuk-nenek? Ceritakan di komentar!
16 dilihat · 0 komentar Bagikan WA

0 komentar

Masuk untuk ikut berkomentar

Anda di mana?

Kami tampilkan iklan terdekat dari lokasi Anda.

Memuat…