Tim PJBOLokal
· Kampar
Kisah Asal Mula Nama Air Tiris di Kampar: Panglima Khatib dan Ikan Tapah Buntung
Pada zaman dahulu, di Desa Koto Pukatan di tepi Sungai Kampar, tinggal seorang lelaki asal Aceh yang dikenal sebagai Syeh Aceh bersama istri dan putranya, Khatib. Khatib anak yang tampan, santun, rajin mengaji, dan menguasai ilmu bela diri.
Suatu hari, saat mencari kayu bakar di hutan, Khatib dan ayahnya diserang harimau besar. Mereka berhasil melumpuhkannya, tetapi luka cakaran di tubuh Syeh Aceh beracun. Sebelum meninggal, sang ayah berpesan agar jasadnya dimasukkan ke sebuah lubang di balik pohon besar dan tempat itu dirahasiakan. Ajaibnya, begitu jasad dimasukkan, jasad itu lenyap seperti ditelan bumi.
Bertahun-tahun kemudian, Khatib memancing untuk mencari lauk bagi ibunya. Di lubuk bernama Ayiu Lului, ia melihat ikan tapah raksasa berekor buntung yang ditakuti warga. Khatib menombaknya. Ikan itu kabur dan menyeret Khatib ke dalam air. Khatib tidak melepaskan tali tombaknya karena ingin menaklukkan ikan itu demi keamanan warga.
Selama dua belas hari, Khatib diseret melalui terowongan bawah air yang berliku. Berkat ilmu pawang air, ia bisa bertahan. Akhirnya ikan itu bersembunyi di bawah batang kayu, dan Khatib berenang ke tepi dalam keadaan tanpa pakaian. Dua gadis yang sedang mencuci mengira ia hantu dan lari ketakutan.
Raja negeri itu datang bersama hulubalang. Untuk menguji apakah makhluk itu manusia beradat, Khatib diberi pakaian dan pisang. Ternyata ia mengupas pisang dengan rapi menjadi empat bagian. Semua yakin ia manusia. Rupanya ia telah sampai di Negeri Gunung Sahilan di Kampar Kiri.
Kebetulan kerajaan sedang mengadakan sayembara untuk menebak sebuah benda aneh. Khatib langsung mengenalinya sebagai sangkal bajak, alat membajak sawah yang biasa dipakai petani di kampungnya. Benda itu kemungkinan hanyut lewat terowongan yang sama. Khatib memenangkan sayembara dan diberi gelar panglima. Ia menolak hadiah lainnya karena ingin segera pulang menemui ibunya.
Selama tinggal di istana, Khatib jatuh hati kepada putri raja bernama Gadih, dan lamarannya diterima. Namun musibah datang. Saat Khatib dan Buyung, kakak Gadih, bermain gasing, sebuah gasing terpental dan mengenai kening Gadih hingga ia meninggal. Buyung yang dilanda duka dan takut akan murka ayahnya ikut kehilangan nyawa hari itu juga.
Konon dari peristiwa itu lahir sejumlah nama tempat: Sungai Pagar (makam Buyung yang dipagari), Rantau Kasih (makam Gadih), Siak Hulu, Kampung Pinang, dan Perhentian Raja, tempat raja beristirahat menenangkan duka. Raja yang bijak itu akhirnya memaafkan Khatib dan menganggapnya sebagai anak sendiri.
Setelah enam hari menyusuri sungai, Khatib tiba di Koto Pukatan tepat saat keluarganya akan mengadakan kenduri seratus hari "kematiannya". Kenduri itu pun diganti menjadi doa syukur.
Kemudian Khatib mengajak ibunya menengok makam ayahnya. Ternyata tempat itu telah menjadi terowongan berair deras yang tembus ke Ayiu Lului. Sang ibu menangis tanpa henti hingga air matanya mengalir seperti air dari ceret bocor dan menggenangi desa. Sejak itu Koto Pukatan dikenal dengan nama Air Tiris, yang kini menjadi ibu kota kecamatan di Kabupaten Kampar.
📚 Sumber: Buku "Asal Mula Nama Air Tiris: Cerita Rakyat Kampar, Riau" karya Zulkaidah, diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Riau (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek), 2021.
Catatan: kisah ini diceritakan kembali secara ringkas dari sumber di atas. Sebagai cerita rakyat yang diwariskan dari mulut ke mulut, kisah ini bisa punya versi berbeda di tiap kampung.
Versi apa yang pernah kalian dengar dari orang tua atau datuk-nenek? Ceritakan di komentar!
Suatu hari, saat mencari kayu bakar di hutan, Khatib dan ayahnya diserang harimau besar. Mereka berhasil melumpuhkannya, tetapi luka cakaran di tubuh Syeh Aceh beracun. Sebelum meninggal, sang ayah berpesan agar jasadnya dimasukkan ke sebuah lubang di balik pohon besar dan tempat itu dirahasiakan. Ajaibnya, begitu jasad dimasukkan, jasad itu lenyap seperti ditelan bumi.
Bertahun-tahun kemudian, Khatib memancing untuk mencari lauk bagi ibunya. Di lubuk bernama Ayiu Lului, ia melihat ikan tapah raksasa berekor buntung yang ditakuti warga. Khatib menombaknya. Ikan itu kabur dan menyeret Khatib ke dalam air. Khatib tidak melepaskan tali tombaknya karena ingin menaklukkan ikan itu demi keamanan warga.
Selama dua belas hari, Khatib diseret melalui terowongan bawah air yang berliku. Berkat ilmu pawang air, ia bisa bertahan. Akhirnya ikan itu bersembunyi di bawah batang kayu, dan Khatib berenang ke tepi dalam keadaan tanpa pakaian. Dua gadis yang sedang mencuci mengira ia hantu dan lari ketakutan.
Raja negeri itu datang bersama hulubalang. Untuk menguji apakah makhluk itu manusia beradat, Khatib diberi pakaian dan pisang. Ternyata ia mengupas pisang dengan rapi menjadi empat bagian. Semua yakin ia manusia. Rupanya ia telah sampai di Negeri Gunung Sahilan di Kampar Kiri.
Kebetulan kerajaan sedang mengadakan sayembara untuk menebak sebuah benda aneh. Khatib langsung mengenalinya sebagai sangkal bajak, alat membajak sawah yang biasa dipakai petani di kampungnya. Benda itu kemungkinan hanyut lewat terowongan yang sama. Khatib memenangkan sayembara dan diberi gelar panglima. Ia menolak hadiah lainnya karena ingin segera pulang menemui ibunya.
Selama tinggal di istana, Khatib jatuh hati kepada putri raja bernama Gadih, dan lamarannya diterima. Namun musibah datang. Saat Khatib dan Buyung, kakak Gadih, bermain gasing, sebuah gasing terpental dan mengenai kening Gadih hingga ia meninggal. Buyung yang dilanda duka dan takut akan murka ayahnya ikut kehilangan nyawa hari itu juga.
Konon dari peristiwa itu lahir sejumlah nama tempat: Sungai Pagar (makam Buyung yang dipagari), Rantau Kasih (makam Gadih), Siak Hulu, Kampung Pinang, dan Perhentian Raja, tempat raja beristirahat menenangkan duka. Raja yang bijak itu akhirnya memaafkan Khatib dan menganggapnya sebagai anak sendiri.
Setelah enam hari menyusuri sungai, Khatib tiba di Koto Pukatan tepat saat keluarganya akan mengadakan kenduri seratus hari "kematiannya". Kenduri itu pun diganti menjadi doa syukur.
Kemudian Khatib mengajak ibunya menengok makam ayahnya. Ternyata tempat itu telah menjadi terowongan berair deras yang tembus ke Ayiu Lului. Sang ibu menangis tanpa henti hingga air matanya mengalir seperti air dari ceret bocor dan menggenangi desa. Sejak itu Koto Pukatan dikenal dengan nama Air Tiris, yang kini menjadi ibu kota kecamatan di Kabupaten Kampar.
📚 Sumber: Buku "Asal Mula Nama Air Tiris: Cerita Rakyat Kampar, Riau" karya Zulkaidah, diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Riau (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek), 2021.
Catatan: kisah ini diceritakan kembali secara ringkas dari sumber di atas. Sebagai cerita rakyat yang diwariskan dari mulut ke mulut, kisah ini bisa punya versi berbeda di tiap kampung.
Versi apa yang pernah kalian dengar dari orang tua atau datuk-nenek? Ceritakan di komentar!