Tim PJBOLokal
· Bengkalis
Kisah Buaya Batang Gaharu: Akibat Kesombongan di Dermaga Bukit Batu
Bukit Batu di Bengkalis dahulu adalah kampung yang ramai. Pasarnya sibuk, sungainya penuh sampan, dan di dermaga para pekerja kayu bongkar muat balok untuk dibawa ke Selatpanjang, Rokan Hilir, bahkan ke luar provinsi. Penduduknya dikenal ramah dan sopan.
Di antara para pekerja dermaga ada seorang lelaki bernama Rosmali. Badannya besar dan berotot, lagaknya seperti bangsawan, dan ia suka mencari perhatian. Meski begitu, sebenarnya Rosmali orang yang jujur, suka menolong, dan pandai bercanda sehingga banyak orang senang kepadanya.
Suatu siang, orang-orang berkerumun di tepi sungai. Seekor buaya besar muncul ke permukaan, bergerak ke sana kemari dengan mata liar. Hal ini tidak biasa, karena sungai itu dalam dan sering dilalui kapal. Warga mulai cemas dan menduga-duga apa penyebabnya.
Tanpa pikir panjang, Rosmali menerobos kerumunan sambil membawa sebatang kayu. Orang-orang memperingatkannya agar menjauh, tetapi ia menjawab dengan santai bahwa buaya itu sudah tua, lemah, dan badannya berlumut. Ia lalu memukuli buaya itu berkali-kali. Sorak-sorai penonton membuatnya makin bersemangat dan bangga. Ia tertawa terbahak-bahak ketika buaya itu menggeliat menghindar.
Akhirnya buaya itu menyelam menjauh ke tengah sungai. Orang-orang bertepuk tangan dan bersiap bubar. Namun tiba-tiba terdengar teriakan "Awas!" dari tepi sungai. Ekor buaya yang keras dan berduri muncul dari air dan menghantam Rosmali. Lelaki itu terpental dan tenggelam.
Beberapa pemuda nekat terjun mencari Rosmali, tetapi arus mendadak deras. Langit menghitam dan hujan lebat turun. Warga ketakutan dan menganggap kejadian itu sebagai teguran atas perbuatan zalim. Hingga hari berikutnya, jasad Rosmali tidak juga ditemukan meski sungai sudah disisir dari hulu ke hilir.
Keesokan harinya, abang Rosmali datang dari Selatpanjang. Ia mengumpulkan keterangan dari para saksi, termasuk para tetua kampung. Mereka bercerita bahwa Rosmali sudah dilarang menyiksa buaya itu, tetapi ia tetap memukulnya karena merasa tidak akan celaka. Abangnya pun sadar bahwa adiknya telah bersikap takabur.
Malam itu, sang abang bertafakur dan berdoa memohon petunjuk. Pagi harinya ia mengajak warga dan para tetua berdoa bersama di tempat Rosmali tenggelam. Tidak lama kemudian, jasad Rosmali muncul ke permukaan tepat di tempat ia jatuh, dan masih utuh. Keluarga akhirnya ikhlas, dan pemakaman dilakukan hari itu juga.
Sepulang dari pemakaman, ketika warga menyeberangi jembatan dari surau, mereka melihat buaya yang sama mengambang di bawah jembatan. Masih tampak bekas luka pukulan di kepala dan badannya. Gerak-geriknya seolah ingin meminta maaf. Sesaat kemudian buaya itu menghilang dan tidak pernah lagi muncul di kampung itu.
Pesan moral dari kisah ini: amarah dan kesombongan tidak menyelesaikan masalah. Jiwa yang besar dan rendah hati jauh lebih mulia.
📚 Sumber: Buku "Buaya Batang Gaharu: Cerita Rakyat Kabupaten Bengkalis, Riau" karya Agus DS, diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Riau (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek), 2021.
Catatan: kisah ini diceritakan kembali secara ringkas dari sumber di atas. Sebagai cerita rakyat yang diwariskan dari mulut ke mulut, kisah ini bisa punya versi berbeda di tiap kampung.
Versi apa yang pernah kalian dengar dari orang tua atau datuk-nenek? Ceritakan di komentar!
Di antara para pekerja dermaga ada seorang lelaki bernama Rosmali. Badannya besar dan berotot, lagaknya seperti bangsawan, dan ia suka mencari perhatian. Meski begitu, sebenarnya Rosmali orang yang jujur, suka menolong, dan pandai bercanda sehingga banyak orang senang kepadanya.
Suatu siang, orang-orang berkerumun di tepi sungai. Seekor buaya besar muncul ke permukaan, bergerak ke sana kemari dengan mata liar. Hal ini tidak biasa, karena sungai itu dalam dan sering dilalui kapal. Warga mulai cemas dan menduga-duga apa penyebabnya.
Tanpa pikir panjang, Rosmali menerobos kerumunan sambil membawa sebatang kayu. Orang-orang memperingatkannya agar menjauh, tetapi ia menjawab dengan santai bahwa buaya itu sudah tua, lemah, dan badannya berlumut. Ia lalu memukuli buaya itu berkali-kali. Sorak-sorai penonton membuatnya makin bersemangat dan bangga. Ia tertawa terbahak-bahak ketika buaya itu menggeliat menghindar.
Akhirnya buaya itu menyelam menjauh ke tengah sungai. Orang-orang bertepuk tangan dan bersiap bubar. Namun tiba-tiba terdengar teriakan "Awas!" dari tepi sungai. Ekor buaya yang keras dan berduri muncul dari air dan menghantam Rosmali. Lelaki itu terpental dan tenggelam.
Beberapa pemuda nekat terjun mencari Rosmali, tetapi arus mendadak deras. Langit menghitam dan hujan lebat turun. Warga ketakutan dan menganggap kejadian itu sebagai teguran atas perbuatan zalim. Hingga hari berikutnya, jasad Rosmali tidak juga ditemukan meski sungai sudah disisir dari hulu ke hilir.
Keesokan harinya, abang Rosmali datang dari Selatpanjang. Ia mengumpulkan keterangan dari para saksi, termasuk para tetua kampung. Mereka bercerita bahwa Rosmali sudah dilarang menyiksa buaya itu, tetapi ia tetap memukulnya karena merasa tidak akan celaka. Abangnya pun sadar bahwa adiknya telah bersikap takabur.
Malam itu, sang abang bertafakur dan berdoa memohon petunjuk. Pagi harinya ia mengajak warga dan para tetua berdoa bersama di tempat Rosmali tenggelam. Tidak lama kemudian, jasad Rosmali muncul ke permukaan tepat di tempat ia jatuh, dan masih utuh. Keluarga akhirnya ikhlas, dan pemakaman dilakukan hari itu juga.
Sepulang dari pemakaman, ketika warga menyeberangi jembatan dari surau, mereka melihat buaya yang sama mengambang di bawah jembatan. Masih tampak bekas luka pukulan di kepala dan badannya. Gerak-geriknya seolah ingin meminta maaf. Sesaat kemudian buaya itu menghilang dan tidak pernah lagi muncul di kampung itu.
Pesan moral dari kisah ini: amarah dan kesombongan tidak menyelesaikan masalah. Jiwa yang besar dan rendah hati jauh lebih mulia.
📚 Sumber: Buku "Buaya Batang Gaharu: Cerita Rakyat Kabupaten Bengkalis, Riau" karya Agus DS, diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Riau (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek), 2021.
Catatan: kisah ini diceritakan kembali secara ringkas dari sumber di atas. Sebagai cerita rakyat yang diwariskan dari mulut ke mulut, kisah ini bisa punya versi berbeda di tiap kampung.
Versi apa yang pernah kalian dengar dari orang tua atau datuk-nenek? Ceritakan di komentar!