Langsung ke konten
PJBO Lokal · Riau

Tim PJBOLokal

· Kota Dumai

Ngopi Sore

Kisah Bujang Manja: Anak Harimau yang Disusui Ibu Tolamah di Dumai

Di Kampung Pangkalan Sesai, Dumai, dahulu berdiri Pasar Kampung Kedondong yang ramai. Letaknya dekat dengan pelabuhan nelayan dan Pelabuhan Sungai Dumai. Setiap kali nelayan "balek mangket" (pulang melaut), warga berebut membeli ikan segar sambil bersenda gurau.

Di kampung itu tinggal seorang ibu bernama Tolamah bersama suaminya yang nelayan dan tiga anak mereka, termasuk seorang bayi laki-laki berusia empat bulan. Rumah panggung mereka sekaligus menjadi satu-satunya kedai di Pangkalan Sesai. Selepas magrib, rumah itu ramai oleh anak-anak yang belajar mengaji kepada suami Tolamah.

Keluarga ini hidup sederhana tetapi gemar bersedekah. Ketika kakaknya menyindir bahwa orang yang pas-pasan tidak perlu bersedekah, Tolamah menjawab dengan lembut bahwa menolong orang tidak harus menunggu kaya. Yang penting adalah niat di hati.

Suatu siang yang terik, saat angin timur membuat laut berbahaya, beberapa orang dari suku pedalaman singgah di kedai Tolamah. Mereka hendak menyeberang tetapi tertahan cuaca. Mereka ingin membeli tembakau, tetapi tidak punya uang. Sebagai gantinya, mereka menawarkan seekor anak harimau.

Tolamah terkejut bukan main. Namun ketika memangku anak harimau itu, hatinya luluh. Anak harimau itu jinak dan mau bermain di pangkuannya. Akhirnya Tolamah setuju dan memberikan tembakau dalam jumlah banyak.

Beberapa hari kemudian, anak harimau itu tampak lemas dan tidak bersemangat. Tolamah sedih dan takut suaminya marah. Ternyata sang suami justru menyadari bahwa anak harimau itu masih sangat kecil dan kehausan. Ia meminta Tolamah menyusuinya, lalu membawa anak-anak bermain di luar agar tidak takut. Benar saja, setelah disusui, anak harimau itu kembali segar dan tertidur pulas.

Tolamah menyayangi harimau kecil itu seperti anak sendiri dan menamainya Bujang Manja. Ia tumbuh besar, penurut, suka melucu, dan membantu menjaga kebun dari binatang pengganggu. Anehnya, ia tidak pernah memangsa hewan lain.

Namun warga kampung mulai resah. Anak-anak tidak lagi berani mengaji, dan orang enggan datang ke kedai. Para tetua adat bermusyawarah dan meminta Bujang Manja dilepaskan ke hutan. Dengan berat hati dan air mata, keluarga Tolamah mengantarnya ke Bukit Takaul sambil membawa nasi kunyit dan telur kesukaannya.

Sejak itu Tolamah selalu bersedih dan rindu. Lama-kelamaan ia jatuh sakit dan meninggal dunia. Saat pemakaman, seekor harimau datang berlari ke kubur Tolamah dan mengais tanah sambil mengaum seperti menangis. Itulah Bujang Manja. Warga berlarian, tetapi anak Tolamah mengenalinya dan menenangkannya.

Saat kenduri, Bujang Manja datang membawakan daging, lalu kembali ke hutan. Setelah empat puluh hari ia tidak pernah muncul lagi. Kemudian anak perempuan Tolamah bermimpi Bujang Manja berpesan: jika keluarga rindu, letakkan nasi kunyit dan sebutir telur di belakang rumah. Kebiasaan itu konon masih dilakukan sebagian orang hingga kini.

📚 Sumber: Buku "Bujang Manja: Cerita Rakyat Dumai, Riau" karya Agus DS, diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Riau (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek), 2021. Buku ini merujuk pada "Cerita Rakyat Dumai" (Kantor Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kota Dumai, 2007).

Catatan: kisah ini diceritakan kembali secara ringkas dari sumber di atas. Sebagai cerita rakyat yang diwariskan dari mulut ke mulut, kisah ini bisa punya versi berbeda di tiap kampung.

Versi apa yang pernah kalian dengar dari orang tua atau datuk-nenek? Ceritakan di komentar!
11 dilihat · 0 komentar Bagikan WA

0 komentar

Masuk untuk ikut berkomentar

Anda di mana?

Kami tampilkan iklan terdekat dari lokasi Anda.

Memuat…