Langsung ke konten
PJBO Lokal · Riau

Tim PJBOLokal

· Indragiri Hulu

Ngopi Sore

Kisah Dayang Kumunah: Asal Usul Ikan Patin dari Tepian Sungai Indragiri

Dahulu kala, di sebuah desa terpencil di tepi Sungai Indragiri, hiduplah seorang pemuda bernama Awang Gading bersama ibunya yang sudah tua. Ayahnya, seorang pelaut gagah bernama Habibun, telah lama meninggal ketika bertarung melawan perompak di Selat Malaka. Walau hidup sederhana, ibu dan anak itu selalu bersyukur.

Awang tumbuh menjadi lelaki yang tegap, pemberani, dan pandai mencari rezeki. Ia berburu rusa dengan tombak, memasang jerat untuk ayam hutan, dan memancing di sungai. Ia bahkan pandai menirukan suara ayam hutan sehingga jarang pulang dengan tangan kosong.

Suatu pagi, setelah salat Subuh berjamaah, Awang pamit kepada ibunya untuk memancing di hilir sungai. Ia membawa sampan kecil, pancing, dan bekal nasi berbungkus daun pisang. Namun hari itu nasibnya kurang baik. Berkali-kali umpannya disambar, tetapi ikan selalu lepas. Karena lelah, ia tertidur di bawah pohon sawo di tepi sungai.

Dalam tidur yang singkat itu, Awang bermimpi didatangi seorang lelaki tua yang membawa kabar tentang ibunya. Awang terbangun dengan gelisah dan segera mendayung pulang melawan arus.

Di perjalanan, ketika melewati hutan bakau, Awang mendengar tangisan bayi. Ia menepi dengan hati-hati, mengintai dari balik semak, dan memastikan tidak ada siapa pun di sana. Ternyata ada seorang bayi perempuan yang ditinggalkan di tengah hutan. Begitu Awang mendekat, bayi itu berhenti menangis, seolah bertemu orang tuanya sendiri. Awang memeluknya dan membawanya pulang.

Ibu Awang sangat gembira melihat bayi yang cantik dan sehat itu. Mereka sepakat merawatnya. Awang melapor kepada kepala desa dan mengadakan doa syukur. Bayi itu diberi nama Dayang Kumunah.

Sejak kehadiran Dayang, rezeki keluarga itu terus mengalir. Belasan tahun kemudian, Dayang tumbuh menjadi gadis yang sangat jelita. Banyak pemuda datang mendekat, hingga akhirnya seorang pemuda baik hati bernama Bujang Atong melamarnya. Pernikahan mereka berlangsung meriah, dan keduanya tinggal di rumah yang dibangunkan Awang untuk Dayang.

Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Beberapa bulan sebelum Dayang melahirkan, Awang Gading meninggal dunia. Dayang sangat terpukul. Ia menjadi pemurung dan tidak mau dihibur. Bahkan setelah melahirkan tiga anak kembar yang lucu, Dayang tidak pernah lagi tersenyum, apalagi tertawa.

Bujang berusaha dengan segala cara. Ia membawakan makanan enak dan pakaian bagus dari kota, tetapi Dayang tetap murung. Suatu siang, Bujang memohon agar Dayang tertawa untuk menghibur anak-anak mereka. Dayang menolak. Bujang pun menggelitik pinggang istrinya sampai akhirnya tawa Dayang pecah.

Saat Dayang tertawa lebar, tampaklah insang di dalam mulutnya. Tubuhnya menggeliat, lalu ia berlari ke sungai. Bujang mengejarnya, tetapi begitu tiba di air, Dayang berubah menjadi seekor ikan yang cantik dan tidak bersisik. Ikan itu meluncur ke sana kemari dengan riang. Masyarakat setempat menamainya ikan patin.

Pesan dari kisah ini antara lain tentang kasih sayang kepada sesama, hormat kepada orang tua, dan menghargai perasaan orang yang sedang berduka.

📚 Sumber: Buku "Asal Usul Ikan Patin: Cerita Rakyat Indragiri Hulu, Riau" karya Andi Mulya, diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Riau (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek), 2021. ISBN 978-623-98961-0-2.

Catatan: kisah ini diceritakan kembali secara ringkas dari sumber di atas. Sebagai cerita rakyat yang diwariskan dari mulut ke mulut, kisah ini bisa punya versi berbeda di tiap kampung.

Versi apa yang pernah kalian dengar dari orang tua atau datuk-nenek? Ceritakan di komentar!
21 dilihat · 0 komentar Bagikan WA

0 komentar

Masuk untuk ikut berkomentar

Anda di mana?

Kami tampilkan iklan terdekat dari lokasi Anda.

Memuat…