Tim PJBOLokal
· Rokan Hulu
Kisah Desa Ulak Patian di Rokan Hulu: Mengikuti Burung Kwayang Menemukan Lubuk Patin
Desa Ulak Patian berada di Kecamatan Kepenuhan, Kabupaten Rokan Hulu. Desa ini dilintasi Sungai Rokan yang membelok tajam. Oleh orang Bonai, belokan sungai berpusaran itu disebut ulak, dan di dalamnya banyak ikan patin. Di sekitar tepiannya banyak pula hinggap burung kwayang, sejenis bangau berwarna cokelat, yang memangsa ikan.
Kisahnya berawal dari sekelompok orang Suku Bonai, delapan orang yang telah memeluk Islam, yang biasa mencari ikan menyusuri Sungai Rokan dari hilir ke hulu. Mereka percaya pada tanda-tanda alam, termasuk arah terbang burung kwayang. Menurut mereka, ke mana burung itu terbang, di situlah ikan berkumpul.
Suatu hari mereka melihat kawanan kwayang terbang ke hulu. Mereka mendayung sekuat tenaga, berpacu seperti lomba pacu jalur, tetapi burung-burung itu terbang lebih cepat dan menghilang. Mereka pun mendayung santai sambil menjala. Hasilnya tidak banyak, kadang hanya cukup untuk makan sehari. Bila agak banyak, ikan ditukar dengan singkong, kelapa, sayur, dan buah di kampung terdekat.
Pada perjalanan berikutnya, mereka menempuh jarak lebih jauh. Dari kejauhan tampak kawanan kwayang bertengger di pohon besar yang di bawahnya ada pusaran air di belokan tajam sungai. Ketika mendekat, arus makin deras dan sampan mereka berputar-putar di tengah pusaran tak terkendali. Karena hari menjelang malam, mereka menepi, membersihkan semak, menyalakan api unggun, dan bermalam di sana.
Esok paginya, salah seorang dari mereka memperhatikan burung-burung kwayang menari dan menyambar ikan di sekitar ulak. Ia mencoba memasang pancing. Tak lama pancingnya bergetar kencang, dan ia mendapat induk ikan patin berukuran besar. Teman-temannya berlari ke tepi dan mendapati semua pancing yang dipasang juga disambar patin besar. Ternyata ulak itu dihuni ribuan ikan patin.
Mereka memutuskan menetap. Dengan gotong royong mereka membuka lahan dan mendirikan pondok. Saat membuka lahan, mereka juga menemukan danau-danau yang terbentuk dari terputusnya aliran Sungai Rokan, penuh ikan senggarek, baung, motan, dan selais. Para ayah mengajari anak-anaknya membuat ikan asin dan ikan kerasak atau salai, yaitu ikan yang diasapi di atas tungku agar awet dan bisa dijual ke luar kampung.
Kabar tentang ulak yang kaya ikan itu menyebar. Menurut buku sumbernya, perpindahan besar-besaran orang Bonai ke daerah itu terjadi pada tahun 1935. Pendatang dan penduduk setempat berbaur dan bersepakat membangun kampung. Mereka memilih Bapak Mudo Kacak sebagai wali atau kepala kampung, dan ia menamai kampung itu Ulak Patin. Setelah kemerdekaan, pemerintah setempat mengubah namanya menjadi Ulak Patian, yang terkenal dengan salai ikan patinnya.
Burung kwayang juga dianggap keramat oleh masyarakat setempat dan dipercaya membawa tanda keberuntungan atau kemalangan. Gerakan burung yang menari saat mendekati pasangannya diangkat oleh bomo (tabib tradisional Bonai) ke dalam ritual pengobatan yang disebut toi burong kwayang atau tari burung kwayang. Kini tarian itu tidak lagi dipakai untuk pengobatan, melainkan dipentaskan sebagai tari tradisional untuk melestarikan budaya daerah.
📚 Sumber: Cerita "Ulak Patian dan Toi Burung Kwayang" yang ditulis kembali oleh Zihamussolihin, dalam buku antologi "21 Cerita Rakyat Bumi Lancang Kuning" (editor Agus Sri Danardana), diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Riau, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, bekerja sama dengan Gama Media, 2010. ISBN 978-979-1104-45-6.
Catatan: kisah ini diceritakan kembali secara ringkas dari sumber di atas. Sebagai cerita rakyat yang diwariskan dari mulut ke mulut, kisah ini bisa punya versi berbeda di tiap kampung.
Versi apa yang pernah kalian dengar dari orang tua atau datuk-nenek? Ceritakan di komentar!
Kisahnya berawal dari sekelompok orang Suku Bonai, delapan orang yang telah memeluk Islam, yang biasa mencari ikan menyusuri Sungai Rokan dari hilir ke hulu. Mereka percaya pada tanda-tanda alam, termasuk arah terbang burung kwayang. Menurut mereka, ke mana burung itu terbang, di situlah ikan berkumpul.
Suatu hari mereka melihat kawanan kwayang terbang ke hulu. Mereka mendayung sekuat tenaga, berpacu seperti lomba pacu jalur, tetapi burung-burung itu terbang lebih cepat dan menghilang. Mereka pun mendayung santai sambil menjala. Hasilnya tidak banyak, kadang hanya cukup untuk makan sehari. Bila agak banyak, ikan ditukar dengan singkong, kelapa, sayur, dan buah di kampung terdekat.
Pada perjalanan berikutnya, mereka menempuh jarak lebih jauh. Dari kejauhan tampak kawanan kwayang bertengger di pohon besar yang di bawahnya ada pusaran air di belokan tajam sungai. Ketika mendekat, arus makin deras dan sampan mereka berputar-putar di tengah pusaran tak terkendali. Karena hari menjelang malam, mereka menepi, membersihkan semak, menyalakan api unggun, dan bermalam di sana.
Esok paginya, salah seorang dari mereka memperhatikan burung-burung kwayang menari dan menyambar ikan di sekitar ulak. Ia mencoba memasang pancing. Tak lama pancingnya bergetar kencang, dan ia mendapat induk ikan patin berukuran besar. Teman-temannya berlari ke tepi dan mendapati semua pancing yang dipasang juga disambar patin besar. Ternyata ulak itu dihuni ribuan ikan patin.
Mereka memutuskan menetap. Dengan gotong royong mereka membuka lahan dan mendirikan pondok. Saat membuka lahan, mereka juga menemukan danau-danau yang terbentuk dari terputusnya aliran Sungai Rokan, penuh ikan senggarek, baung, motan, dan selais. Para ayah mengajari anak-anaknya membuat ikan asin dan ikan kerasak atau salai, yaitu ikan yang diasapi di atas tungku agar awet dan bisa dijual ke luar kampung.
Kabar tentang ulak yang kaya ikan itu menyebar. Menurut buku sumbernya, perpindahan besar-besaran orang Bonai ke daerah itu terjadi pada tahun 1935. Pendatang dan penduduk setempat berbaur dan bersepakat membangun kampung. Mereka memilih Bapak Mudo Kacak sebagai wali atau kepala kampung, dan ia menamai kampung itu Ulak Patin. Setelah kemerdekaan, pemerintah setempat mengubah namanya menjadi Ulak Patian, yang terkenal dengan salai ikan patinnya.
Burung kwayang juga dianggap keramat oleh masyarakat setempat dan dipercaya membawa tanda keberuntungan atau kemalangan. Gerakan burung yang menari saat mendekati pasangannya diangkat oleh bomo (tabib tradisional Bonai) ke dalam ritual pengobatan yang disebut toi burong kwayang atau tari burung kwayang. Kini tarian itu tidak lagi dipakai untuk pengobatan, melainkan dipentaskan sebagai tari tradisional untuk melestarikan budaya daerah.
📚 Sumber: Cerita "Ulak Patian dan Toi Burung Kwayang" yang ditulis kembali oleh Zihamussolihin, dalam buku antologi "21 Cerita Rakyat Bumi Lancang Kuning" (editor Agus Sri Danardana), diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Riau, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, bekerja sama dengan Gama Media, 2010. ISBN 978-979-1104-45-6.
Catatan: kisah ini diceritakan kembali secara ringkas dari sumber di atas. Sebagai cerita rakyat yang diwariskan dari mulut ke mulut, kisah ini bisa punya versi berbeda di tiap kampung.
Versi apa yang pernah kalian dengar dari orang tua atau datuk-nenek? Ceritakan di komentar!