Tim PJBOLokal
· Kota Pekanbaru
Kisah Jenaka Muslihat Si Lanca: Akal Panjang Orang Miskin Mengakali Raja
Alkisah di suatu negeri, hiduplah seorang lelaki miskin bernama Lanca bersama istri dan anaknya. Mereka hidup dari upah membantu orang di sawah atau kebun, dan upah itu tidak datang setiap hari. Orang menyebut Lanca "bodoh-bodoh tanggung". Penampilannya kusut dan bicaranya lugu, tetapi sebenarnya akalnya sangat panjang.
Suatu hari Lanca ingin punya sawah. Ia menghadap raja dan memohon dipinjami sebidang tanah. Hasil panen akan dibagi dua: separuh untuk raja sebagai sewa, separuh untuk Lanca yang punya tenaga. Raja setuju dan meminjamkan sawahnya di tepi sungai.
Berkat kerja keras Lanca sekeluarga dan tanah yang subur, padinya tumbuh sangat bagus. Namun Lanca berpikir, keuntungannya akan kecil bila dibagi dua. Maka ia menyusun rencana.
Menjelang panen, ia menyuruh istrinya menuai sedikit padi, menumbuknya jadi beras, memasak nasi, dan memanggang dua ekor ayam. Nasinya tidak boleh disalin dari periuk. Lalu Lanca mengundang raja mencicipi nasi dari padi baru mereka. Di perjalanan, raja berhenti untuk buang air besar di sungai. Diam-diam Lanca pergi ke hulu dan melakukan hal yang sama, sehingga kotorannya hanyut ke arah raja.
Raja murka. Namun Lanca menjelaskan dengan polos: raja adalah raja, dan ia hanyalah pengawal. Menurutnya, kotoran raja pun harus dikawal dari belakang. Raja terdiam, bahkan sedikit tersanjung.
Sesampai di rumah, raja yang lapar langsung melahap ayam panggang. Sementara itu, di dapur Lanca membuka tutup periuk, mengentuti nasi di dalamnya, lalu menutupnya rapat. Ia menyajikan periuk itu dan mempersilakan raja membukanya sendiri sebagai penghormatan. Begitu dibuka, tercium bau busuk. Lanca pura-pura bingung, lalu berkata mungkin karena sawah mereka berada di ujung aliran air, sehingga kotoran orang yang buang air di hulu masuk ke sawah dan terserap batang padi. Raja jijik dan menolak bagiannya. Seluruh hasil panen pun menjadi milik Lanca.
Lain waktu, Lanca ingin punya kerbau karena jeraminya banyak. Ia memohon kepada raja dengan alasan anaknya menangis ingin memelihara kerbau. Raja yang dipuji-puji akhirnya setuju berbagi kepemilikan: bagian kepala milik raja, bagian ekor milik Lanca.
Ketika jerami habis, Lanca menyuruh anaknya melepas kerbau ke kebun orang. Isi kebun habis dimakan. Pemilik kebun menuntut ganti rugi, dan perkara dibawa ke raja. Lanca berkata urusan makan adalah kerja mulut, dan mulut ada di bagian depan, milik raja. Raja terpaksa membayar dan meminta bertukar bagian.
Beberapa hari kemudian, kerbau itu diikat di dalam rumah kosong milik orang lain hingga rumah itu penuh kotoran. Pemiliknya marah dan menghadap raja. Kali ini Lanca berkata urusan buang kotoran adalah kerja bagian belakang, yang sekarang milik raja. Raja malu dan kesal karena dua kali rugi. Ia membayar ganti rugi dan menyerahkan kerbau itu seluruhnya kepada Lanca.
Cerita jenaka seperti ini biasa dituturkan untuk hiburan sekaligus sindiran tentang penguasa yang mudah tersanjung pujian.
📚 Sumber: Cerita "Muslihat Si Lanca" yang ditulis kembali oleh Sarmianti, dalam buku antologi "21 Cerita Rakyat Bumi Lancang Kuning" (editor Agus Sri Danardana), diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Riau, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, bekerja sama dengan Gama Media, 2010. ISBN 978-979-1104-45-6.
Catatan: kisah ini diceritakan kembali secara ringkas dari sumber di atas. Sebagai cerita rakyat yang diwariskan dari mulut ke mulut, kisah ini bisa punya versi berbeda di tiap kampung.
Versi apa yang pernah kalian dengar dari orang tua atau datuk-nenek? Ceritakan di komentar!
Suatu hari Lanca ingin punya sawah. Ia menghadap raja dan memohon dipinjami sebidang tanah. Hasil panen akan dibagi dua: separuh untuk raja sebagai sewa, separuh untuk Lanca yang punya tenaga. Raja setuju dan meminjamkan sawahnya di tepi sungai.
Berkat kerja keras Lanca sekeluarga dan tanah yang subur, padinya tumbuh sangat bagus. Namun Lanca berpikir, keuntungannya akan kecil bila dibagi dua. Maka ia menyusun rencana.
Menjelang panen, ia menyuruh istrinya menuai sedikit padi, menumbuknya jadi beras, memasak nasi, dan memanggang dua ekor ayam. Nasinya tidak boleh disalin dari periuk. Lalu Lanca mengundang raja mencicipi nasi dari padi baru mereka. Di perjalanan, raja berhenti untuk buang air besar di sungai. Diam-diam Lanca pergi ke hulu dan melakukan hal yang sama, sehingga kotorannya hanyut ke arah raja.
Raja murka. Namun Lanca menjelaskan dengan polos: raja adalah raja, dan ia hanyalah pengawal. Menurutnya, kotoran raja pun harus dikawal dari belakang. Raja terdiam, bahkan sedikit tersanjung.
Sesampai di rumah, raja yang lapar langsung melahap ayam panggang. Sementara itu, di dapur Lanca membuka tutup periuk, mengentuti nasi di dalamnya, lalu menutupnya rapat. Ia menyajikan periuk itu dan mempersilakan raja membukanya sendiri sebagai penghormatan. Begitu dibuka, tercium bau busuk. Lanca pura-pura bingung, lalu berkata mungkin karena sawah mereka berada di ujung aliran air, sehingga kotoran orang yang buang air di hulu masuk ke sawah dan terserap batang padi. Raja jijik dan menolak bagiannya. Seluruh hasil panen pun menjadi milik Lanca.
Lain waktu, Lanca ingin punya kerbau karena jeraminya banyak. Ia memohon kepada raja dengan alasan anaknya menangis ingin memelihara kerbau. Raja yang dipuji-puji akhirnya setuju berbagi kepemilikan: bagian kepala milik raja, bagian ekor milik Lanca.
Ketika jerami habis, Lanca menyuruh anaknya melepas kerbau ke kebun orang. Isi kebun habis dimakan. Pemilik kebun menuntut ganti rugi, dan perkara dibawa ke raja. Lanca berkata urusan makan adalah kerja mulut, dan mulut ada di bagian depan, milik raja. Raja terpaksa membayar dan meminta bertukar bagian.
Beberapa hari kemudian, kerbau itu diikat di dalam rumah kosong milik orang lain hingga rumah itu penuh kotoran. Pemiliknya marah dan menghadap raja. Kali ini Lanca berkata urusan buang kotoran adalah kerja bagian belakang, yang sekarang milik raja. Raja malu dan kesal karena dua kali rugi. Ia membayar ganti rugi dan menyerahkan kerbau itu seluruhnya kepada Lanca.
Cerita jenaka seperti ini biasa dituturkan untuk hiburan sekaligus sindiran tentang penguasa yang mudah tersanjung pujian.
📚 Sumber: Cerita "Muslihat Si Lanca" yang ditulis kembali oleh Sarmianti, dalam buku antologi "21 Cerita Rakyat Bumi Lancang Kuning" (editor Agus Sri Danardana), diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Riau, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, bekerja sama dengan Gama Media, 2010. ISBN 978-979-1104-45-6.
Catatan: kisah ini diceritakan kembali secara ringkas dari sumber di atas. Sebagai cerita rakyat yang diwariskan dari mulut ke mulut, kisah ini bisa punya versi berbeda di tiap kampung.
Versi apa yang pernah kalian dengar dari orang tua atau datuk-nenek? Ceritakan di komentar!