Tim PJBOLokal
· Indragiri Hilir
Kisah Pedane dan Sri Natun: Asal Mula Desa Bedari di Mandah, Indragiri Hilir
Dahulu di Desa Bekawan, Kecamatan Mandah, hiduplah Datuk Che Ngah, pemimpin kampung yang disegani, bersama istrinya, Mak Itam. Mereka mempunyai seorang anak bernama Bujang Perdana yang biasa dipanggil Pedane. Konon keluarga ini keturunan Datuk Kelambai. Pedane kuat dan cerdas, tetapi usil dan sombong karena selalu dibela ibunya.
Pedane punya dua sahabat. Ada Sri Natun, gadis kecil periang berkulit sawo matang yang tidak pendendam, dan Bujang Nasir yang biasa dipanggil Nassi, anak rajin yang banyak kawan. Pedane sering mengejek Sri Natun. Ia bahkan bersumpah lebih baik membujang sampai tua daripada berjodoh dengan Sri. Nassi hanya tertawa dan berkata akan mengingat ucapan itu.
Suatu hari Pedane menantang Sri Natun berlomba mendayung jongkong. Pedane sengaja membiarkan Sri masuk jauh ke batang sungai, lalu ia bersembunyi dan pulang diam-diam. Sri terus mencari Pedane sampai kelelahan dan tertidur di akar bakau. Ketika terbangun, hari sudah gelap dan hujan turun. Ia terpeleset, kepalanya terbentur batang bakau, dan ia pingsan.
Malam itu orang tua Sri panik mencarinya. Datuk Che Ngah memukul keketok di surau untuk mengumpulkan warga. Pedane akhirnya mengaku telah meninggalkan Sri di kuala sungai. Warga mencari sambil memukul panci dan kuali, karena dipercaya orang yang hilang disembunyikan orang bunian. Pencarian berlangsung seminggu, tetapi Sri tidak ditemukan.
Datuk Che Ngah lalu menjatuhkan hukuman kepada anaknya sendiri: Pedane harus meninggalkan kampung selama sepuluh tahun. Diam-diam sang ayah berbisik bahwa ia percaya Pedane bisa berubah. Sebelum berangkat, Pedane bertemu Mak Faridah, ibu Sri. Meski sedang berduka, Mak Faridah memberinya selimut dan sebuah kotak kecil, dan berpesan agar isinya ditaburkan bila ia dalam bahaya.
Berhari-hari Pedane terombang-ambing di laut. Badai datang dan jongkongnya retak. Ia teringat pesan Mak Faridah, membuka kotak berisi serbuk kulit kerang, lalu berdoa. Seketika badai reda dan jongkongnya utuh kembali. Ia pun tiba di Pulau Penyengat, bekerja di istana, dan diangkat anak oleh seorang penjaga istana.
Sepuluh tahun kemudian Pedane pulang sebagai pemuda yang sopan dan suka menolong. Kampung menyambutnya dengan gembira. Mak Itam pun ternyata sudah berbaikan dengan Mak Faridah.
Suatu hari Pedane dan Nassi berburu ke hutan. Saat mencari kayu api, Pedane mendengar seorang perempuan melantunkan syair dengan merdu. Ia mendekat, tersandung akar, dan jatuh ke sungai. Perempuan itu menoleh dan tertawa. Ternyata ia Sri Natun, kini sangat cantik seperti bidadari. Ketika Sri mengulurkan tangan membantunya, turunlah dua bidadari dari kayangan menjemput Sri. Sri melambaikan tangan dan menitip salam untuk keluarga sebelum menghilang ke langit.
Sejak itu Pedane sering datang ke sungai itu berharap bertemu Sri lagi. Ia menamai sungai itu Sungai Bedari, membuka lahan, dan mendirikan kampung yang kini dikenal sebagai Desa Bidari Tanjung Datuk. Konon Pedane tidak pernah menikah sampai akhir hayatnya karena terus menunggu Sri Natun, sementara Nassi berkeluarga di desa itu.
📚 Sumber: Buku "Asal Mula Desa Bedari: Cerita Rakyat Indragiri Hilir, Riau" karya Darmaiyah, diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Riau (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek), 2021.
Catatan: kisah ini diceritakan kembali secara ringkas dari sumber di atas. Sebagai cerita rakyat yang diwariskan dari mulut ke mulut, kisah ini bisa punya versi berbeda di tiap kampung.
Versi apa yang pernah kalian dengar dari orang tua atau datuk-nenek? Ceritakan di komentar!
Pedane punya dua sahabat. Ada Sri Natun, gadis kecil periang berkulit sawo matang yang tidak pendendam, dan Bujang Nasir yang biasa dipanggil Nassi, anak rajin yang banyak kawan. Pedane sering mengejek Sri Natun. Ia bahkan bersumpah lebih baik membujang sampai tua daripada berjodoh dengan Sri. Nassi hanya tertawa dan berkata akan mengingat ucapan itu.
Suatu hari Pedane menantang Sri Natun berlomba mendayung jongkong. Pedane sengaja membiarkan Sri masuk jauh ke batang sungai, lalu ia bersembunyi dan pulang diam-diam. Sri terus mencari Pedane sampai kelelahan dan tertidur di akar bakau. Ketika terbangun, hari sudah gelap dan hujan turun. Ia terpeleset, kepalanya terbentur batang bakau, dan ia pingsan.
Malam itu orang tua Sri panik mencarinya. Datuk Che Ngah memukul keketok di surau untuk mengumpulkan warga. Pedane akhirnya mengaku telah meninggalkan Sri di kuala sungai. Warga mencari sambil memukul panci dan kuali, karena dipercaya orang yang hilang disembunyikan orang bunian. Pencarian berlangsung seminggu, tetapi Sri tidak ditemukan.
Datuk Che Ngah lalu menjatuhkan hukuman kepada anaknya sendiri: Pedane harus meninggalkan kampung selama sepuluh tahun. Diam-diam sang ayah berbisik bahwa ia percaya Pedane bisa berubah. Sebelum berangkat, Pedane bertemu Mak Faridah, ibu Sri. Meski sedang berduka, Mak Faridah memberinya selimut dan sebuah kotak kecil, dan berpesan agar isinya ditaburkan bila ia dalam bahaya.
Berhari-hari Pedane terombang-ambing di laut. Badai datang dan jongkongnya retak. Ia teringat pesan Mak Faridah, membuka kotak berisi serbuk kulit kerang, lalu berdoa. Seketika badai reda dan jongkongnya utuh kembali. Ia pun tiba di Pulau Penyengat, bekerja di istana, dan diangkat anak oleh seorang penjaga istana.
Sepuluh tahun kemudian Pedane pulang sebagai pemuda yang sopan dan suka menolong. Kampung menyambutnya dengan gembira. Mak Itam pun ternyata sudah berbaikan dengan Mak Faridah.
Suatu hari Pedane dan Nassi berburu ke hutan. Saat mencari kayu api, Pedane mendengar seorang perempuan melantunkan syair dengan merdu. Ia mendekat, tersandung akar, dan jatuh ke sungai. Perempuan itu menoleh dan tertawa. Ternyata ia Sri Natun, kini sangat cantik seperti bidadari. Ketika Sri mengulurkan tangan membantunya, turunlah dua bidadari dari kayangan menjemput Sri. Sri melambaikan tangan dan menitip salam untuk keluarga sebelum menghilang ke langit.
Sejak itu Pedane sering datang ke sungai itu berharap bertemu Sri lagi. Ia menamai sungai itu Sungai Bedari, membuka lahan, dan mendirikan kampung yang kini dikenal sebagai Desa Bidari Tanjung Datuk. Konon Pedane tidak pernah menikah sampai akhir hayatnya karena terus menunggu Sri Natun, sementara Nassi berkeluarga di desa itu.
📚 Sumber: Buku "Asal Mula Desa Bedari: Cerita Rakyat Indragiri Hilir, Riau" karya Darmaiyah, diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Riau (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek), 2021.
Catatan: kisah ini diceritakan kembali secara ringkas dari sumber di atas. Sebagai cerita rakyat yang diwariskan dari mulut ke mulut, kisah ini bisa punya versi berbeda di tiap kampung.
Versi apa yang pernah kalian dengar dari orang tua atau datuk-nenek? Ceritakan di komentar!