Langsung ke konten
PJBO Lokal · Riau

Tim PJBOLokal

· Kota Dumai

Ngopi Sore

Kisah Putri Sri Bunga Tanjung dari Dumai: Selendang yang Hilang di Hulu Sungai Dumai

Kerajaan Sri Bunga Tanjung dikisahkan berdiri di Dumai. Nama kerajaan ini juga dikenal dalam legenda Putri Tujuh yang populer di kota tersebut. Rajanya punya tiga orang putri: Putri Lindung Bulan, Putri Mayang Mengurai, dan si bungsu Putri Ketimbung Raya. Masing-masing diasuh para dayang.

Putri Ketimbung Raya sangat mirip dengan dayangnya, Putri Perdah Patah, seperti pinang dibelah dua. Hanya pakaian yang membedakan mereka. Sang putri selalu memakai selendang sutra putih peninggalan almarhumah ibundanya, permaisuri yang telah wafat lima tahun sebelumnya.

Putri Ketimbung Raya paling senang mandi di pemandian putri di hulu Sungai Dumai. Suatu sore, selendang kesayangannya tertinggal di sana, dan ketika dicari dayang, selendang itu tak ditemukan. Sang putri sangat sedih hingga jatuh sakit. Raja mengumumkan bahwa siapa pun yang menemukan selendang itu akan diberi hadiah dan boleh menginap seminggu di istana. Banyak orang datang membawa selendang, tetapi tak satu pun yang benar.

Suatu senja, seorang perantau asal Aceh bernama Tengku Adun memancing di hulu Sungai Dumai. Pancingnya tersangkut sehelai kain berlumpur. Setelah dicuci, ternyata kain itu selendang sutra putih. Esoknya ia membawanya ke istana, dan raja membenarkan itulah selendang sang putri.

Selama seminggu tinggal di istana, Tengku Adun jatuh hati pada Dayang Perdah Patah, dan perasaan itu berbalas. Setelah Adun pulang, keduanya berkirim kabar dengan menghanyutkan tulisan di atas daun setiap pukul lima sore.

Suatu hari Dayang Perdah pulang kampung karena ibunya sakit keras, tanpa sempat memberi tahu Adun. Sore itu Putri Ketimbung Raya berjalan di tepi sungai dan bertemu Adun yang sedang menunggu. Mengira itu kekasihnya, Adun menggenggam tangan sang putri. Putri sangat terkejut dan marah, lalu mengadu kepada raja. Adun ditangkap tanpa diberi kesempatan menjelaskan, lalu dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan kerajaan.

Dayang Mestika Kencana kemudian memberi tahu sang putri bahwa pemuda itu adalah orang yang menemukan selendangnya. Putri menyesal dan memohon kepada ayahnya agar hukuman dibatalkan sebagai hadiah ulang tahunnya, tetapi raja menolak demi wibawa kerajaan.

Pada hari pelaksanaan hukuman, sang putri naik ke panggung, menggenggam pedang, dan menyatakan bahwa jika pemuda itu dihukum, ia pun rela mati. Seluruh rakyat terdiam. Akhirnya raja membatalkan hukuman, disambut sorak gembira.

Sejak itu Putri Ketimbung Raya dan Adun sering bertemu diam-diam. Dayang Perdah, yang telah kembali, merelakan Adun demi kebahagiaan sang putri yang selalu baik kepadanya. Adun bimbang, karena ia tak ingin mengkhianati Dayang Perdah, tetapi juga tak ingin menyakiti sang putri. Raja pun gundah karena berniat menjodohkan putrinya dengan putra bangsawan dari Siak.

Suatu hari sang putri mendengar percakapan Dayang Perdah dan Adun di taman, dan barulah ia tahu kisah sebenarnya. Ia mengurung diri tujuh hari. Ketika keluar, wajahnya kembali cerah. Dayang Perdah memohon ampun, dan sang putri memaafkannya dengan satu syarat: Dayang Perdah harus menikah dengan Tengku Adun, karena ia lebih berhak bahagia. Raja yang mendengar dari balik pintu pun lega, karena semua masalah selesai dengan baik.

📚 Sumber: Cerita "Putri Sri Bunga Tanjung" yang ditulis kembali oleh Marlina, dalam buku antologi "21 Cerita Rakyat Bumi Lancang Kuning" (editor Agus Sri Danardana), diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Riau, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, bekerja sama dengan Gama Media, 2010. ISBN 978-979-1104-45-6.

Catatan: kisah ini diceritakan kembali secara ringkas dari sumber di atas. Sebagai cerita rakyat yang diwariskan dari mulut ke mulut, kisah ini bisa punya versi berbeda di tiap kampung.

Versi apa yang pernah kalian dengar dari orang tua atau datuk-nenek? Ceritakan di komentar!
23 dilihat · 0 komentar Bagikan WA

0 komentar

Masuk untuk ikut berkomentar

Anda di mana?

Kami tampilkan iklan terdekat dari lokasi Anda.

Memuat…