Tim PJBOLokal
· Kuantan Singingi
Kisah Rawang Tekuluk di Lubuk Jambi, Kuansing: Siti Johari yang Durhaka
Di Lubuk Jambi, Kuantan Singingi, tinggal Pak Dulah, seorang pedagang emas keliling yang kaya. Ia punya kebun karet, ladang, dan sawah yang luas. Ia berdagang hari Ahad di Pasar Lubuk Jambi, Senin di Pasar Gunung, dan Sabtu di Pasar Lubuk Ambacang. Istrinya bernama Mak Siah, dan anak semata wayang mereka bernama Siti Johari.
Pak Dulah sangat memanjakan Siti. Setiap pulang dari pasar ia membawakan boneka, baju baru, atau perhiasan emas. Siti suka memamerkan barang barunya sehingga teman-teman jarang mau bermain dengannya. Ia juga gemar jajan dan tidak mau menabung. Mak Siah sering menasihatinya bahwa hemat pangkal kaya dan bahwa ayahnya tidak selamanya ada, tetapi Siti bosan mendengarnya.
Suatu hari Pak Dulah berangkat berniaga ke Lubuk Ambacang dengan perahu bersama Datuk Diko dan Pokiah Sabirin. Di rumah, Siti bercerita kepada ibunya bahwa ia bermimpi jatuh dari pohon jambu, giginya copot, dan ayahnya hanya diam melihatnya. Tak lama, seekor burung murai berkicau sendirian di pohon jambu. Mak Siah mulai cemas tetapi tidak menunjukkannya kepada anaknya.
Dalam perjalanan pulang, badai melanda Sungai Kuantan. Perahu mereka dihantam batang kayu hanyut hingga pecah di batu besar. Pak Dulah dan Datuk Diko tenggelam, sedangkan Pokiah Sabirin selamat berpegangan pada kayu. Dua hari kemudian jasad keduanya ditemukan dan dimakamkan.
Sejak itu hidup Mak Siah dan Siti berubah. Kemarau panjang membuat padi di sawah mengering. Mereka terpaksa merantau ke Pucukrantau untuk menjadi buruh upahan menuai padi. Siti yang tidak terbiasa bekerja merasa bosan dan kesal. Jarinya tergores daun padi, dan ia menyalahkan ibunya atas nasib mereka.
Suatu siang, Siti melempar piring makan ibunya ke sawah orang dan menyuruh ibunya makan dari tempurung kelapa. Mak Siah sangat terluka. Ia menasihati anaknya agar tidak durhaka, lalu sempat terucap bahwa anak durhaka bisa mati masuk rawang. Namun Siti justru makin sombong dan memperlakukan ibunya seperti pembantu. Mak Siah tetap sabar dan terus mendoakan anaknya.
Setelah musim tuai berakhir dan upah dibayarkan, rombongan pulang ke Lubuk Jambi. Untuk mempersingkat perjalanan, mereka melewati jalan pintas melintasi rawa berlumpur dalam dengan titian kayu. Siti ketakutan. Di tengah rawa, ia terperosok dan tubuhnya tertarik lumpur hidup. Semua orang berusaha menolong, tetapi tidak berhasil.
Saat tubuhnya terus tenggelam, Siti menyadari kesalahannya dan memohon maaf kepada ibunya. Mak Siah memaafkannya sambil menangis, dan ikut meminta maaf karena dulu terlanjur mengucapkan kata-kata itu. Siti meminta ibunya mengambil cincin, kalung, dan tekuluknya, tetapi Mak Siah berkata biarlah semua itu tetap di badan Siti sebagai pengganti kain kafan. Siti pun lenyap ditelan lumpur. Hanya tekuluk atau selendangnya yang masih bergerak di permukaan air.
Sejak itu rawa tersebut dinamakan Rawang Tekuluk, atau Rawang Takuluak dalam sebutan masyarakat Lubuk Jambi.
📚 Sumber: Cerita "Rawang Tekuluk" yang ditulis kembali oleh Arpina, dalam buku antologi "21 Cerita Rakyat Bumi Lancang Kuning" (editor Agus Sri Danardana), diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Riau, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, bekerja sama dengan Gama Media, 2010. ISBN 978-979-1104-45-6.
Catatan: kisah ini diceritakan kembali secara ringkas dari sumber di atas. Sebagai cerita rakyat yang diwariskan dari mulut ke mulut, kisah ini bisa punya versi berbeda di tiap kampung.
Versi apa yang pernah kalian dengar dari orang tua atau datuk-nenek? Ceritakan di komentar!
Pak Dulah sangat memanjakan Siti. Setiap pulang dari pasar ia membawakan boneka, baju baru, atau perhiasan emas. Siti suka memamerkan barang barunya sehingga teman-teman jarang mau bermain dengannya. Ia juga gemar jajan dan tidak mau menabung. Mak Siah sering menasihatinya bahwa hemat pangkal kaya dan bahwa ayahnya tidak selamanya ada, tetapi Siti bosan mendengarnya.
Suatu hari Pak Dulah berangkat berniaga ke Lubuk Ambacang dengan perahu bersama Datuk Diko dan Pokiah Sabirin. Di rumah, Siti bercerita kepada ibunya bahwa ia bermimpi jatuh dari pohon jambu, giginya copot, dan ayahnya hanya diam melihatnya. Tak lama, seekor burung murai berkicau sendirian di pohon jambu. Mak Siah mulai cemas tetapi tidak menunjukkannya kepada anaknya.
Dalam perjalanan pulang, badai melanda Sungai Kuantan. Perahu mereka dihantam batang kayu hanyut hingga pecah di batu besar. Pak Dulah dan Datuk Diko tenggelam, sedangkan Pokiah Sabirin selamat berpegangan pada kayu. Dua hari kemudian jasad keduanya ditemukan dan dimakamkan.
Sejak itu hidup Mak Siah dan Siti berubah. Kemarau panjang membuat padi di sawah mengering. Mereka terpaksa merantau ke Pucukrantau untuk menjadi buruh upahan menuai padi. Siti yang tidak terbiasa bekerja merasa bosan dan kesal. Jarinya tergores daun padi, dan ia menyalahkan ibunya atas nasib mereka.
Suatu siang, Siti melempar piring makan ibunya ke sawah orang dan menyuruh ibunya makan dari tempurung kelapa. Mak Siah sangat terluka. Ia menasihati anaknya agar tidak durhaka, lalu sempat terucap bahwa anak durhaka bisa mati masuk rawang. Namun Siti justru makin sombong dan memperlakukan ibunya seperti pembantu. Mak Siah tetap sabar dan terus mendoakan anaknya.
Setelah musim tuai berakhir dan upah dibayarkan, rombongan pulang ke Lubuk Jambi. Untuk mempersingkat perjalanan, mereka melewati jalan pintas melintasi rawa berlumpur dalam dengan titian kayu. Siti ketakutan. Di tengah rawa, ia terperosok dan tubuhnya tertarik lumpur hidup. Semua orang berusaha menolong, tetapi tidak berhasil.
Saat tubuhnya terus tenggelam, Siti menyadari kesalahannya dan memohon maaf kepada ibunya. Mak Siah memaafkannya sambil menangis, dan ikut meminta maaf karena dulu terlanjur mengucapkan kata-kata itu. Siti meminta ibunya mengambil cincin, kalung, dan tekuluknya, tetapi Mak Siah berkata biarlah semua itu tetap di badan Siti sebagai pengganti kain kafan. Siti pun lenyap ditelan lumpur. Hanya tekuluk atau selendangnya yang masih bergerak di permukaan air.
Sejak itu rawa tersebut dinamakan Rawang Tekuluk, atau Rawang Takuluak dalam sebutan masyarakat Lubuk Jambi.
📚 Sumber: Cerita "Rawang Tekuluk" yang ditulis kembali oleh Arpina, dalam buku antologi "21 Cerita Rakyat Bumi Lancang Kuning" (editor Agus Sri Danardana), diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Riau, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, bekerja sama dengan Gama Media, 2010. ISBN 978-979-1104-45-6.
Catatan: kisah ini diceritakan kembali secara ringkas dari sumber di atas. Sebagai cerita rakyat yang diwariskan dari mulut ke mulut, kisah ini bisa punya versi berbeda di tiap kampung.
Versi apa yang pernah kalian dengar dari orang tua atau datuk-nenek? Ceritakan di komentar!