Tim PJBOLokal
· Kampar
Kisah Sabariah dari Kampar: Sumpah Setia yang Dilanggar dan Batu Berbentuk Buaya
Pada zaman dahulu, tersiar kisah tentang seorang gadis bernama Sabariah yang sampai kini masih diingat masyarakat Kampar. Ia ramah, cantik, dan patuh kepada kedua orang tuanya yang petani sederhana. Sebagai anak semata wayang, ia sangat disayang. Sehari-hari ia memasak, mencuci, dan mengantar makanan ke ladang.
Suatu hari sahabatnya, Gadi Imar, mengajaknya menonton perhelatan besar tujuh hari tujuh malam di kampung seberang. Sabariah ragu ayahnya akan mengizinkan. Ternyata sang ayah luluh karena putrinya jarang meminta sesuatu. Ia berpesan agar Sabariah menjaga diri di kampung orang, karena mulutmu harimaumu: berjalan peliharalah kaki, berkata peliharalah lidah.
Dalam perjalanan menuju tempat pesta di Bukit Podang Potai, Sabariah beristirahat dan bertemu seorang pemuda tampan bernama Buyuong Andin. Benih cinta tumbuh di antara mereka. Hubungan itu direstui orang tua, dan keduanya pun bertunangan.
Buyuong Andin lalu berniat merantau untuk mengumpulkan biaya pesta pernikahan. Sabariah mengizinkan, dan berpesan lewat pantun agar Buyuong pandai membawa diri di rantau orang: di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Sebelum berpisah, keduanya bersumpah sehidup semati. Sabariah bersumpah, bila ia ingkar, di air ia akan dimakan buaya dan di darat dimakan harimau. Buyuong bersumpah, bila ia ingkar, di laut ia dimakan hiu dan di darat menjadi hantu.
Hari berganti bulan, setahun lewat tanpa kabar. Buyuong Andin sibuk bekerja dan tidak pernah berkirim berita. Sabariah menunggu dengan hati gundah.
Sementara itu, seorang pemuda gagah anak orang kaya dari Koto Padang Siabu, bernama Bujang Ilala, sedang dalam perjalanan. Di tengah jalan ia dihadang lima penyamun dan berhasil mengalahkan mereka seorang diri. Saat beristirahat di dekat rumah Sabariah, ia memanah seekor burung, tetapi tiga anak panahnya meleset dan mengenai atap rumah Sabariah.
Sabariah keluar dan memarahinya. Bujang Ilala hanya menunduk, meminta maaf dengan sopan, dan berjanji mengganti kerugian. Kesabaran dan kesopanannya meluluhkan hati Sabariah. Mereka berkenalan, saling jatuh cinta, dan Sabariah pun melupakan sumpahnya kepada Buyuong Andin. Keluarga Bujang Ilala datang melamar, dan hari pernikahan ditetapkan.
Pada malam bainai, Sabariah ingin mandi ke sungai. Ia bercerita kepada Gadi Imar bahwa perasaannya tidak enak karena teringat sumpahnya. Gadi Imar menenangkannya. Sabariah pun pergi mandi sendirian, tetapi tidak kunjung pulang. Ketika warga mencarinya, yang ditemukan di tepi sungai hanya pakaiannya.
Di tempat lain, tiga pemuda pencari rotan, seorang bisu, seorang pekak, dan seorang gagap, beristirahat di pinggir sungai. Si bisu melihat sebuah batu besar berbentuk buaya, dan di mulutnya ada batu yang menyerupai seorang gadis. Dengan bahasa isyarat ia memberi tahu kawan-kawannya. Ternyata batu itu menyerupai Sabariah. Warga mengangkat batu itu ke rumah keluarganya, dan masyarakat meyakini Sabariah telah menjelma batu bersama buaya yang memangsanya.
Kabar itu sampai kepada Buyuong Andin. Ia pulang, marah, dan mencari Bujang Ilala hingga terjadi perkelahian hebat. Orang-orang melerai, dan para tetua menasihati bahwa semua itu adalah takdir. Akhirnya keduanya berdamai dan ikhlas menerima bahwa Sabariah bukan jodoh mereka.
📚 Sumber: Cerita "Sabariah" yang ditulis kembali oleh Khairul Azmi, dalam buku antologi "21 Cerita Rakyat Bumi Lancang Kuning" (editor Agus Sri Danardana), diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Riau, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, bekerja sama dengan Gama Media, 2010. ISBN 978-979-1104-45-6.
Catatan: kisah ini diceritakan kembali secara ringkas dari sumber di atas. Sebagai cerita rakyat yang diwariskan dari mulut ke mulut, kisah ini bisa punya versi berbeda di tiap kampung.
Versi apa yang pernah kalian dengar dari orang tua atau datuk-nenek? Ceritakan di komentar!
Suatu hari sahabatnya, Gadi Imar, mengajaknya menonton perhelatan besar tujuh hari tujuh malam di kampung seberang. Sabariah ragu ayahnya akan mengizinkan. Ternyata sang ayah luluh karena putrinya jarang meminta sesuatu. Ia berpesan agar Sabariah menjaga diri di kampung orang, karena mulutmu harimaumu: berjalan peliharalah kaki, berkata peliharalah lidah.
Dalam perjalanan menuju tempat pesta di Bukit Podang Potai, Sabariah beristirahat dan bertemu seorang pemuda tampan bernama Buyuong Andin. Benih cinta tumbuh di antara mereka. Hubungan itu direstui orang tua, dan keduanya pun bertunangan.
Buyuong Andin lalu berniat merantau untuk mengumpulkan biaya pesta pernikahan. Sabariah mengizinkan, dan berpesan lewat pantun agar Buyuong pandai membawa diri di rantau orang: di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Sebelum berpisah, keduanya bersumpah sehidup semati. Sabariah bersumpah, bila ia ingkar, di air ia akan dimakan buaya dan di darat dimakan harimau. Buyuong bersumpah, bila ia ingkar, di laut ia dimakan hiu dan di darat menjadi hantu.
Hari berganti bulan, setahun lewat tanpa kabar. Buyuong Andin sibuk bekerja dan tidak pernah berkirim berita. Sabariah menunggu dengan hati gundah.
Sementara itu, seorang pemuda gagah anak orang kaya dari Koto Padang Siabu, bernama Bujang Ilala, sedang dalam perjalanan. Di tengah jalan ia dihadang lima penyamun dan berhasil mengalahkan mereka seorang diri. Saat beristirahat di dekat rumah Sabariah, ia memanah seekor burung, tetapi tiga anak panahnya meleset dan mengenai atap rumah Sabariah.
Sabariah keluar dan memarahinya. Bujang Ilala hanya menunduk, meminta maaf dengan sopan, dan berjanji mengganti kerugian. Kesabaran dan kesopanannya meluluhkan hati Sabariah. Mereka berkenalan, saling jatuh cinta, dan Sabariah pun melupakan sumpahnya kepada Buyuong Andin. Keluarga Bujang Ilala datang melamar, dan hari pernikahan ditetapkan.
Pada malam bainai, Sabariah ingin mandi ke sungai. Ia bercerita kepada Gadi Imar bahwa perasaannya tidak enak karena teringat sumpahnya. Gadi Imar menenangkannya. Sabariah pun pergi mandi sendirian, tetapi tidak kunjung pulang. Ketika warga mencarinya, yang ditemukan di tepi sungai hanya pakaiannya.
Di tempat lain, tiga pemuda pencari rotan, seorang bisu, seorang pekak, dan seorang gagap, beristirahat di pinggir sungai. Si bisu melihat sebuah batu besar berbentuk buaya, dan di mulutnya ada batu yang menyerupai seorang gadis. Dengan bahasa isyarat ia memberi tahu kawan-kawannya. Ternyata batu itu menyerupai Sabariah. Warga mengangkat batu itu ke rumah keluarganya, dan masyarakat meyakini Sabariah telah menjelma batu bersama buaya yang memangsanya.
Kabar itu sampai kepada Buyuong Andin. Ia pulang, marah, dan mencari Bujang Ilala hingga terjadi perkelahian hebat. Orang-orang melerai, dan para tetua menasihati bahwa semua itu adalah takdir. Akhirnya keduanya berdamai dan ikhlas menerima bahwa Sabariah bukan jodoh mereka.
📚 Sumber: Cerita "Sabariah" yang ditulis kembali oleh Khairul Azmi, dalam buku antologi "21 Cerita Rakyat Bumi Lancang Kuning" (editor Agus Sri Danardana), diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Riau, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, bekerja sama dengan Gama Media, 2010. ISBN 978-979-1104-45-6.
Catatan: kisah ini diceritakan kembali secara ringkas dari sumber di atas. Sebagai cerita rakyat yang diwariskan dari mulut ke mulut, kisah ini bisa punya versi berbeda di tiap kampung.
Versi apa yang pernah kalian dengar dari orang tua atau datuk-nenek? Ceritakan di komentar!