Langsung ke konten
PJBO Lokal · Riau

Tim PJBOLokal

· Rokan Hilir

Ngopi Sore

Kisah Tuanku Datuk Panglima Nyarang dan Putri Hijau dari Kerajaan Pekaitan

Alkisah, Kerajaan Pekaitan diperintah oleh Tuanku Datuk Seri Daun. Ia mempunyai putri semata wayang yang sangat cantik bernama Putri Hijau, yang kecantikannya diibaratkan bintang timur. Sang putri masih manja dan kerjanya hanya bermain bersama para dayang. Banyak raja dan pangeran datang meminang, tetapi tak satu pun berkenan di hatinya. Raja makin risau. Setiap kali gelisah, ia bermain "tangkap harimau" bersama panglima perangnya yang gagah dan sakti, Panglima Nayan.

Di tempat lain, di Sungai Rokan, berdiri Kerajaan Si Arangarang yang dipimpin raja gagah berani bernama Tuanku Datuk Panglima Nyarang. Ia sangat selektif memilih pendamping dan hanya mau menikah dengan Putri Hijau. Setelah mendapat restu ibundanya, ia berangkat seorang diri dengan sampan besar dan galah dari kayu meranti bujang. Konon sampannya melaju secepat angin, melewati Labuhan Papan dan Ujung Simbur hingga tiba di Pekaitan.

Sementara itu, Sultan Aceh juga ingin meminang Putri Hijau. Ia mengutus tujuh hulubalang dengan tujuh kapal penuh senjata dan harta, dengan pesan agar mereka tidak pulang sebelum berhasil. Raja Pekaitan menerima mereka dengan hormat, tetapi menyampaikan bahwa putrinya belum mau menikah.

Takut dihukum sultan, para hulubalang menyusun siasat. Dua orang menantang raja bermain tangkap harimau pada malam hari dengan taruhan besar. Raja mempertaruhkan separuh kerajaannya, sedangkan hulubalang mempertaruhkan tujuh kapal beserta isinya. Panglima Nayan menyarankan agar permainan dilakukan siang hari, tetapi raja tidak menggubris.

Di tengah permainan, Panglima Nayan mendengar tetesan darah dari anjungan putri. Ia bergegas ke sana dan mendapati para dayang telah tewas dan Putri Hijau tidak ada. Ia menyadari telah dikelabui. Panglima Nayan menghabisi dua hulubalang, lalu berlari ke dermaga. Dari kejauhan ia melihat sampan Datuk Panglima Nyarang di tengah laut, dan sadarlah ia bahwa sang putri telah dibawa pergi.

Di atas sampan, Putri Hijau terbangun dan menangis ketakutan. Panglima Nyarang memperkenalkan diri sebagai Raja Si Arangarang dan mengatakan ia menyelamatkan sang putri dari amukan hulubalang. Ia membujuk sang putri dengan pantun demi pantun. Tempat ia berhasil membujuk sang putri kemudian dinamai Pembujukan. Ketika akhirnya Putri Hijau membalas pantunnya, tempat perhentian itu dinamai Sangko Duo.

Sesampainya di Si Arangarang, ibunda Panglima Nyarang tahu bahwa seorang yang sakti sedang mengejar. Ia memberikan Capil Perak, topi ajaib yang membuat pemakainya tak terlihat. Saat Panglima Nayan tiba, dengan kesaktiannya ia tetap dapat melihat keduanya di dalam kamar. Namun ia tidak merebut sang putri. Ia hanya melantunkan pantun bahwa keduanya memang jodoh yang sepadan, lalu pulang.

Kepada Raja Pekaitan, Panglima Nayan melaporkan bahwa Putri Hijau telah menikah dengan Datuk Panglima Nyarang, seorang raja besar, dan tidak mau pulang. Raja lega dan bersyukur putrinya telah menemukan jodoh. Di Si Arangarang, pesta pernikahan berlangsung meriah selama tujuh hari tujuh malam.

📚 Sumber: Cerita "Tuanku Datuk Panglima Nyarang" yang ditulis kembali oleh Sri Sabakti, dalam buku antologi "21 Cerita Rakyat Bumi Lancang Kuning" (editor Agus Sri Danardana), diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Riau, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, bekerja sama dengan Gama Media, 2010. ISBN 978-979-1104-45-6.

Catatan: kisah ini diceritakan kembali secara ringkas dari sumber di atas. Sebagai cerita rakyat yang diwariskan dari mulut ke mulut, kisah ini bisa punya versi berbeda di tiap kampung.

Versi apa yang pernah kalian dengar dari orang tua atau datuk-nenek? Ceritakan di komentar!
18 dilihat · 0 komentar Bagikan WA

0 komentar

Masuk untuk ikut berkomentar

Anda di mana?

Kami tampilkan iklan terdekat dari lokasi Anda.

Memuat…