Tim PJBOLokal
· Bengkalis
Kisah Yong Dolah: Tangga Sakti, Turun dari Puncak Kelapa 25 Meter
Sore-sore begini, sambil menyeruput kopi, mari kita kenang kembali Yong Dolah, seniman penglipur lara dari Senggoro, Bengkalis. Konon, setiap kali beliau mulai bercerita di kedai kopi, gelas-gelas kopi pun dibiarkan dingin karena orang sibuk mendengar dan tertawa.
Kali ini, kisah yang pernah beliau tuturkan tentang sebatang pohon kelapa.
Begini ceritanya.
Di kampung ada sebatang pohon kelapa yang luar biasa tingginya, lebih dari 25 meter. Buahnya lebat, tapi tak seorang pun berani memanjatnya. Orang kampung cuma bisa memandang dari bawah sambil menelan ludah.
"Biar aku yang naik," kata Yong Dolah dengan gagah.
Orang kampung sudah melarang, tapi Yong tetap memanjat. Selangkah demi selangkah, akhirnya ia sampai di puncak. Dari atas, ia melambai-lambai dengan bangga. Kampung terlihat kecil, laut terlihat luas.
Barulah Yong sadar ada satu masalah besar: ia tidak tahu bagaimana caranya turun. Batangnya terlalu tinggi dan licin. Melorot ke bawah terlalu berbahaya, melompat apalagi.
Yong berpikir keras di atas pucuk kelapa. Lama ia termenung, sampai tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Eh, di belakang rumah aku kan ada tangga!"
Maka, kata Yong, ia pun pulang ke rumah mengambil tangga, menyandarkannya ke batang kelapa, lalu turun dengan selamat dan tenang.
Orang yang mendengar cerita itu pun bertanya, "Yong, macam mana pulak awak boleh pulang ambil tangga kalau masih di atas pokok kelapa?"
Yong Dolah cuma tersenyum sambil menghirup kopinya.
Di balik kekonyolannya, para pembaca kisah ini sering memetik pesan tentang keberanian dan pantang menyerah. Tapi tentu juga sindiran halus: berani boleh, asal dipikirkan dulu cara pulangnya.
📚 Kisah ini termasuk dalam buku "Kapal Tanker: Kumpulan Cerita Yong Dolah dan Analisis Singkat" karya Abdul Razak, seperti dikutip dalam jurnal "Kajian Psikopragmatik Cerita Yong Dolah" (Maszurah Zulkarolina dkk., JOM FKIP Universitas Riau, 2020), dan juga dimuat di blog Basatu Nagori Maju (2010).
───
☕ Catatan: kisah ini salah satu versi yang beredar dari mulut ke mulut di tengah masyarakat Melayu Bengkalis. Cerita Yong Dolah sudah dituturkan ulang oleh banyak orang, jadi detailnya bisa berbeda di tiap kedai kopi.
Pernah dengar versi lain dari datuk atau ayah kalian? Atau punya kisah Yong Dolah favorit? Ceritakan di komentar!
Kali ini, kisah yang pernah beliau tuturkan tentang sebatang pohon kelapa.
Begini ceritanya.
Di kampung ada sebatang pohon kelapa yang luar biasa tingginya, lebih dari 25 meter. Buahnya lebat, tapi tak seorang pun berani memanjatnya. Orang kampung cuma bisa memandang dari bawah sambil menelan ludah.
"Biar aku yang naik," kata Yong Dolah dengan gagah.
Orang kampung sudah melarang, tapi Yong tetap memanjat. Selangkah demi selangkah, akhirnya ia sampai di puncak. Dari atas, ia melambai-lambai dengan bangga. Kampung terlihat kecil, laut terlihat luas.
Barulah Yong sadar ada satu masalah besar: ia tidak tahu bagaimana caranya turun. Batangnya terlalu tinggi dan licin. Melorot ke bawah terlalu berbahaya, melompat apalagi.
Yong berpikir keras di atas pucuk kelapa. Lama ia termenung, sampai tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Eh, di belakang rumah aku kan ada tangga!"
Maka, kata Yong, ia pun pulang ke rumah mengambil tangga, menyandarkannya ke batang kelapa, lalu turun dengan selamat dan tenang.
Orang yang mendengar cerita itu pun bertanya, "Yong, macam mana pulak awak boleh pulang ambil tangga kalau masih di atas pokok kelapa?"
Yong Dolah cuma tersenyum sambil menghirup kopinya.
Di balik kekonyolannya, para pembaca kisah ini sering memetik pesan tentang keberanian dan pantang menyerah. Tapi tentu juga sindiran halus: berani boleh, asal dipikirkan dulu cara pulangnya.
📚 Kisah ini termasuk dalam buku "Kapal Tanker: Kumpulan Cerita Yong Dolah dan Analisis Singkat" karya Abdul Razak, seperti dikutip dalam jurnal "Kajian Psikopragmatik Cerita Yong Dolah" (Maszurah Zulkarolina dkk., JOM FKIP Universitas Riau, 2020), dan juga dimuat di blog Basatu Nagori Maju (2010).
───
☕ Catatan: kisah ini salah satu versi yang beredar dari mulut ke mulut di tengah masyarakat Melayu Bengkalis. Cerita Yong Dolah sudah dituturkan ulang oleh banyak orang, jadi detailnya bisa berbeda di tiap kedai kopi.
Pernah dengar versi lain dari datuk atau ayah kalian? Atau punya kisah Yong Dolah favorit? Ceritakan di komentar!